Minggu, 18 Maret 2012

my personal literature

16 September 1991,

Lampu koridor yang temaram, suara langkah manusia, dan hembusan angin yang sesekali menusuk kulit seakan - akan memaksa untuk masuk ke dalam tubuh, sungguh bukan sebuah malam yang indah di rumah sakit itu. Hanya beberapa deret kursi kayu panjang berwarna putih yang berjajar di koridor dengan wajah - wajah cemas penuh harap di atasnya. Sesekali terdengar gurauan ringan dari arah orang - orang di atas bangku, yah mungkin untuk sekedar menghibur diri. 

Namun ada satu orang dari kumpulan tersebut yang hanya sedikit menyunggingkan bibirnya setiap kali ia mendengar gurauan - gurauan itu, seorang laki -laki tegap, lengkap dengan pakaian kerja hijau - hitamnya dan sebuah badge "balok dua" di lengan. Pratu Subarkah, begitulah biasanya ia disapa oleh orang - orang di sekitarnya. Sejak sore tadi ia tak henti menggerakkan mulutnya, berdoa dan terus saja berdoa untuk seorang wanita yang telah dinikahinya tepat satu tahun tiga hari yang lalu. Keringat dingin pun tampak menghiasi wajah dan leher si Pratu selama penantian tersebut.

"Suaminya yang mana ya?" tanya seorang suster muda dengan perawakan sedang kepada salah satu dari kumpulan orang di bangku tersebut.

"Itu sus, yang pakai seragam", balasnya.

Nampak sang suster berjalan menghampiri prajurit tersebut, sedikit berbincang dan mengajaknya masuk ke ruang persalinan. Yah, Pratu Subarkah memang sedang menunggu kelahiran sang buah hati pertamanya, malaikat kecil yang telah setahun ia tunggu bersama istri untuk melengkapi keluarga bahagianya. Namun, tidak seperti proses kelahiran normal yang sering ditampakkan di televisi dan sinetron pada umumnya, penuh dengan teriakan dan raungan kesakitan sang ibu. Istri Pratu Subarkah ini tampak sangat tenang, sesekali wajahnya mengerut, memperlihatkan bahwa ia sedang mengejan, mendorong sang buah hati untuk segera menghirup nafas pertamanya di dunia. Hingga akhirnya,

"Tuing!!", gue muncul ke dunia dengan indahnya. Hahaha

"Ooeeee, ooe. . .", sebuah suara tangis kecil dari sesosok makhluk lucu memecah kesunyian malam tersebut. Disusul dengan suara adzan lirih bercampur tangis oleh Pratu Subarkah di telinga sang bayi di atas pelukannya. 

Ga pernah nyangka, kalau suara merdu bokap yang bakal gue denger pertama kali di dunia ini. Suara yang mampir selanjutnya adalah sorak sorai beberapa orang yang tiba - tiba menghambur masuk ke dalam ruang persalinan. Tidak seramai sorakan "bonek" untuk kemenangan persebaya, tapi cukup untuk menggambarkan suasana mereka malam itu. Semuanya tersenyum penuh, seakan lupa sama nyokap yang masih terkapar tak berdaya di sudut tempat tidur. Namun sekilas wajahnya tetap terlihat tersenyum lemas, dan tetap cantik dengan baju daster polos rumah sakit itu. Coba saat itu gue bisa loncat sendiri ke pelukan nyokap sambil teriak,

"Mamaaa, neneeeen!!!" 

Ternyata sudah dua puluh tahun berlalu sejak kejadian malam itu. Waktu yang cukup lama, kalau dipakai untuk ngumpulin pasir, mungkin gue udah kaya sekarang, jadi juragan pasir, tinggal nyari kembang pasirnya untuk pendamping hidup. Namun, keluarga gue berharap buah hatinya ini menjadi seorang yang berpendidikan dan dapat berguna bagi negara nanti, bukan manusia yang diperbudak uang dan kepentingan pribadi.

Besar di keluarga yang berlatar belakang nyokap militer dan nyokap guru, cukup buat bikin masa kecil gue lumayan disiplin. Bahkan, boker pun diatur, sehari minimal 1kali sebelum atau sesudah sarapan, cukup menyiksa memang. Bokap orangnya tegas, keras, tapi di dalam hatinya beliau orang yang sangat lembut. Walaupun beliau seorang yang hidup di lingkungan militer yang terkenal keras, sekalipun belum pernah anak - anaknya mendapatkan pukulan dari beliau, selalu belaian dan nasihat dewasa yang ia berikan. tapi pernah sih gue dilempar sendal sekali pas pulang dari rental playstation di dekat rumah karena bolos les. Itulah satu - satunya perlakuan keras beliau sampai saat ini. Nyokap, dengan latar belakang guru, orangnya lembut, sabar, loyal karena beliau yang ngasih gue uang saku tiap bulan, tapi bawelnya, parah abis. Beliau bisa ngomel seharian tentang satu hal yang sama dan tidak seharusnya menjadi masalah besar. Terlebih lagi pas dapet tamu bulanan, orang serumah biasanya sepakat pergi bareng, daripada kena ledakan emosi nyokap. Namun, kami wajib ngasih martabak waktu pulang biar suasana kembali damai, semacam sesajen mungkin.

nah, sekarang giliran gue nih perkenalan diri. Nama lahir gue Iwan Hardiyanto, sebuah nama yang beraroma khas Jawa, yang artinya adalah "orang yang patut disanjung, berpendirian keras, berkepribadian baik, dan berasal dari jawa". Cukup panjang dan indah sekali begitu gue tahu arti nama gue sendiri yang indah itu. Namun, arti nama itu adalah kebohongan nyokap pertama kalinya ke gue saat gue berumur 9 tahun, kecuali untuk "orang yang patut disanjung", karena itu memang arti dari kata "iwan" yang ada di nama gue.

"untuk arti hardiyanto sih Ibu ngawur aja, wong dulu asal aja nemu itu kata Hardiyanto buat kamu, Le." Sambung nyokap setelah ngasih tahu arti nama gue yang panjang dan indah di atas.

Tapi, apalah arti sebuah nama, jika kita tidak bisa mambawanya ke sebuah kehidupan yang baik. Karenanya, gue lebih memilih nama panggilan gue sejak jaman SMA, yakni "coco", karena menurut gue pribadi menjadi orang yang patut disanjung itu susah, berat. Mungkin bagus ya saat kita berbuat sesuatu yang hebat dan disanjung - sanjung semua orang, tapi saat kita melakukan hal buruk dan disanjung, misalnya berak di celana, dan semua orang berteriak sambil memberi selamat,

"Hore, Hore, selamat ya berak di celana!!" Ga lucu lagi dong.

Coco sendiri sebenarnya adalah nama pemberian salah satu temen cewe SMA gue yang melihat keanehan khas yang ada di wajah gue. Sebenarnya memang sudah aneh dari dulu, tapi gue cukup salut lah doi bisa melihat keanehan itu. Jadi, di wajah gue ini ada peninggalan sejarah dari dua ekor serangga iseng yang mendaratkan kotorannya tepat di dekat mata sebelah kiri, dan di bibir kiri bagian atas gue. yah, ada tahi lalat yang cukup mencolok di dua tempat tadi. Untung saja lalat, coba kebo atau sapi, ga ngerti lah bakal jadi kaya gimana muka gue sekarang. Menurut temen gue itu, dua tahi lalat ini bikin wajah gue terlihat mirip biskuit chocochip, yang memang sedang digemari anak - anak saat itu, dan jadilah coco, nama panggilan gue itu.

bersambung. . .

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More